Dari Pemukulan hingga Brimob Lindas Ojol, Inilah Jumlah dan Jenis Kekerasan yang Dilakukan Oleh Aparat (Polisi) di Indonesia Selama 2025.

Pada paruh pertama 2025, penggunaan kekerasan oleh aparat khususnya kepolisian terus mencerminkan degradasi serius terhadap kebebasan sipil dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Amnesty International mendokumentasikan 104 serangan terhadap pembela HAM dalam 54 kasus antara Januari sampai Juni, dengan lonjakan paling tinggi terjadi di bulan Mei. 

Kelompok yang paling rentan adalah masyarakat adat 36 korban dan jurnalis 31 korban, serta laporan adanya bentuk intimidasi, kriminalisasi, penangkapan, dan kekerasan fisik yang sering kali dilakukan oleh polisi.

Sementara itu, menyoroti 602 peristiwa kekerasan oleh Polri, dengan 411 insiden penembakan sebagai yang terbanyak. Selain itu tercatat 38 kasus penyiksaan 86 korban, termasuk 10 meninggal, 44 kejadian salah tangkap 8 tewas, 35 luka, serta 42 pembubaran paksa aksi unjuk rasa, dan total korban mencapai 1.020 orang, terutama mahasiswa, jurnalis, paramedis, aktivis, dan masyarakat sipil lainnya.

Secara khusus, Juli 2025 menjadi momentum penting dan menggambarkan bahwa sepanjang tahun terakhir, tindakan represif aparat tidak hanya sistemik tetapi juga berskala masif. Korban termasuk perwakilan kelompok pendukung keadilan, namun aparat yang seharusnya pelindung, justru jadi pelaku.

Berdasarkan dari kejadian ini jelas bahwa antara Juni dan Juli 2025, pola kekerasan aparat tidak menunjukkan perlambatan. Justru, Keberadaan data yang sangat masif dari kedua lembaga memperkuat urgensi reformasi dan akuntabilitas Polri sebagai institusi penegak hukum yang adil dan menghormati HAM.

Hanya dengan penegakan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, kepercayaan publik terhadap aparat dapat dipulihkan. Reformasi menyeluruh di tubuh kepolisian menjadi keharusan agar negara benar-benar hadir melindungi rakyat, bukan melukai mereka.

Baca Juga: Polisi Jadi Aktor Utama Pelanggaran Kebebasan Sipil di Indonesia 2025